Post Page Advertisement [Top]

 
TRIMATRANews | Padang, 6 Mei 2026 — Senin, 5 Mei 2026, menjadi hari yang tak akan pernah dilupakan oleh dua remaja yatim piatu yang tengah berjuang menggapai masa depan melalui pendidikan. Di halaman Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Al-Furqon, Dadok Tunggul Hitam, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, tangisan pecah tanpa mampu dibendung saat keputusan pahit diumumkan: mereka dinyatakan keluar sekolah karena belum mampu melunasi tunggakan biaya pendidikan.

Dua remaja tersebut adalah Avil Mulyadi (17), siswa kelas II asal Ujung Gading, Kabupaten Pasaman Barat, dan Dio Fatuta (18), pemuda asal Kepulauan Mentawai. Keduanya sama-sama hidup dalam keterbatasan, kehilangan orang tua sejak usia dini, dan menggantungkan harapan hidup pada pendidikan yang kini terancam pupus.
Avil menjalani hidup sebagai anak piatu, sementara Dio harus menghadapi kenyataan lebih berat sebagai yatim piatu tanpa sanak saudara. Tak ada tempat pulang selain harapan, tak ada sandaran selain mimpi yang mereka rajut perlahan melalui bangku sekolah.

Perjalanan mereka menuju pendidikan tidaklah mudah. Dari Pasaman Barat hingga Kepulauan Mentawai, mereka merantau ke Kota Padang demi mengubah nasib. Di bawah asuhan Panti Asuhan Nur Ilahi, Kurao Nanggalo, keduanya menjalani hari-hari dengan penuh semangat, percaya bahwa ilmu adalah jalan keluar dari kerasnya kehidupan.

Namun, harapan itu seolah runtuh seketika. Keterbatasan ekonomi menjadi penghalang besar yang tak mampu mereka taklukkan. Tas sekolah yang biasanya menjadi simbol perjuangan, kini harus dibawa pulang dengan langkah berat dan hati yang hancur.

Ironisnya, Pemerintah Kota Padang sejatinya telah memiliki kebijakan yang menjamin pendidikan bagi siswa kurang mampu, termasuk anak yatim piatu. Namun dalam praktiknya, kebijakan tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh mereka yang paling membutuhkan, hingga kasus seperti ini masih terjadi.

Kisah memilukan ini mengguncang hati banyak pihak, termasuk Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Provinsi Sumatera Barat, Khairuddin Simanjuntak. Saat mengikuti sidang paripurna sekitar pukul 09.30 WIB, ia membaca pemberitaan tentang nasib Avil dan Dio, yang langsung membuat hatinya tersentak.

Tanpa menunggu lama, usai sidang, Khairuddin langsung bergerak menemui kedua remaja tersebut. Pertemuan itu menjadi momen emosional yang tak terlupakan, ketika ia menyaksikan langsung kesedihan mendalam di wajah Avil dan Dio.

Melihat kondisi mereka, mendengar kisah perjuangan yang penuh luka, ketegaran Khairuddin pun runtuh. Air mata tak mampu dibendung, mengalir sebagai bentuk empati dan kepedulian terhadap nasib anak-anak bangsa yang terancam kehilangan masa depan.

“Saya tidak kuasa menahan air mata. Hati saya terasa remuk. Mereka ini anak bangsa yang harus kita jaga. Kalau bukan kita yang membantu, siapa lagi?” ujar Khairuddin dengan suara bergetar, menunjukkan kepedulian yang tulus.

Ia menegaskan tidak akan tinggal diam. Langkah cepat akan diambil dengan berkoordinasi bersama pihak sekolah, yayasan, dan instansi terkait, guna memastikan Avil dan Dio dapat kembali melanjutkan pendidikan tanpa hambatan biaya.

Lebih dari sekadar menyelesaikan tunggakan, Khairuddin juga berkomitmen memastikan keberlanjutan pendidikan mereka hingga tuntas. Ia ingin memastikan tidak ada lagi alasan ekonomi yang memutus rantai masa depan dua remaja tersebut.

Kini, di tengah luka yang masih terasa, secercah harapan mulai tumbuh. Kepedulian yang hadir menjadi jembatan bagi mereka untuk kembali bangkit, membuktikan bahwa masih ada hati yang peduli dan tangan yang siap menolong.

# Andalusia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

Segenap wartawan & wartawati, Komisaris serta pemimpin Redaksi Trimatranews turut berduka cita atas bencana erupsi gunung Merapi Sumbar






.




Selamat datang di Cp 085319070835