TRIMATRANews | Padang (SUMBAR) — Suasana tegang menyelimuti kawasan depan Balai Kota Padang, Kamis sore (7/5/2026). Ratusan mahasiswa bersama masyarakat turun ke jalan melakukan aksi unjuk rasa menuntut keadilan atas meninggalnya Karim Sukma Satria, seorang pengamen jalanan di Pasar Raya Padang yang dikabarkan meninggal dunia usai diamankan oleh petugas Satpol PP Kota Padang.
Aksi tersebut berlangsung penuh emosi. Massa mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol duka mendalam, sementara pita merah melingkar di pergelangan tangan mereka menjadi lambang perlawanan terhadap dugaan tindakan kekerasan yang dialami Karim sebelum meninggal dunia.
Sejak pukul 14.00 WIB, para demonstran mulai memadati kawasan Balai Kota. Mereka membawa poster besar bertuliskan “Usut Tuntas Pembunuhan Karim” dan “KARIM BUKAN ODGJ!”. Foto wajah Karim dipasang di pagar gedung pemerintahan, bahkan dibagikan dalam bentuk selebaran kepada pengguna jalan yang melintas.
Di tengah keramaian itu, massa berkali-kali meneriakkan tuntutan agar pemerintah kota segera memberikan penjelasan resmi kepada publik. Mereka menilai kematian Karim menyisakan terlalu banyak kejanggalan dan tidak boleh dianggap sebagai kasus biasa.
Karim selama ini dikenal sebagai pengamen jalanan yang kerap mencari nafkah di kawasan Pasar Raya Padang. Meski hidup sederhana dan berjuang di kerasnya jalanan kota, keluarga menegaskan Karim adalah pribadi yang sadar penuh, mampu berkomunikasi dengan baik, dan tidak pernah mengalami gangguan jiwa seperti yang sempat beredar di tengah masyarakat.
Ayah almarhum, Raffles, tampak hadir langsung di tengah aksi. Dengan mata sembab dan suara bergetar, ia berdiri di hadapan mahasiswa serta awak media sambil menggenggam sejumlah dokumen identitas milik anaknya.
“Saya ayah Karim. Saya tegaskan, anak saya tidak pernah ada catatan kriminal, dan yang paling penting, dia bukan ODGJ. Karim hanya pengamen yang mencari makan dengan cara halal. Kenapa diperlakukan seperti penjahat sampai nyawanya hilang?” ujar Raffles dengan nada penuh amarah dan kesedihan.
Pernyataan itu langsung disambut teriakan solidaritas dari massa aksi. Banyak mahasiswa mengaku geram karena stigma terhadap pengamen dan masyarakat kecil kerap digunakan untuk membenarkan tindakan represif aparat di lapangan.
Situasi sempat memanas ketika sejumlah demonstran membakar ban bekas tepat di depan gerbang Balai Kota. Asap hitam membumbung tinggi ke udara, sementara orator bergantian menyampaikan pidato keras yang menuntut pengusutan tuntas terhadap dugaan penganiayaan yang menyebabkan kematian Karim.
Dalam orasinya, mahasiswa meminta Wali Kota Padang turun langsung menemui massa dan memberikan klarifikasi terbuka terkait proses penanganan Karim oleh Satpol PP sebelum dinyatakan meninggal dunia.
Mereka juga mendesak aparat penegak hukum melakukan investigasi independen dan transparan, termasuk memeriksa seluruh petugas yang terlibat dalam penangkapan maupun pengamanan terhadap Karim pada hari kejadian.
Bagi massa aksi, persoalan ini bukan hanya tentang kematian seorang pengamen jalanan, melainkan tentang perlakuan terhadap warga kecil yang dianggap tidak memiliki kekuatan untuk membela diri. Mereka menilai kasus Karim menjadi simbol perlawanan terhadap stigma, kekerasan, dan ketidakadilan sosial.
Hingga sore menjelang malam, massa masih bertahan di depan Balai Kota Padang. Mereka bersikeras tidak akan membubarkan diri sebelum ada kepastian bahwa kasus kematian Karim Sukma Satria benar-benar diusut hingga tuntas dan pihak yang bertanggung jawab diproses secara hukum.
# Tim|red





Tidak ada komentar:
Posting Komentar